Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu’alaikum
Warahmatullahi Wabarokatu, Hay guys jumpa lagi ni di tugas mingguan kesembilan, sebelumnya diminggu
lalu saya sudah menulis tentang strategi pembelajaran, dan sekarang saya akan membahas
tentang sistem
evaluasi, yuk langsung saja ke pembahasannya...
Keberhasilan suatu kegiatan dapat dilihat dari evaluasi yang
dilakukan terhadap rencana, proses dan hasil akhir kegiatan. Melalui kegiatan
evaluasi, akan mengetahui apakah kegiatan yang dilakukan berhasil efektif
ataukah tidak, termasuk dalam pembelajaran di pendidikan sekolah.
Pengertian Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi pembelajaran adalah proses untuk mendapatkan data dan
informasi yang diperlukan dalam menentukan sejauh mana dan bagaimana
pembelajaran yang telah berjalan agar dapat membuat penilaian (judgement) dan
perbaikan yang dibutuhkan untuk memaksimalkan hasilnya.
Definisi di atas didasari oleh pendapat Mahrens & Lehmann (1978 dalam Purwnto, 2013, hlm. 3) yang menyatakan bahwa evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan.
Istilah evaluasi pembelajaran sering disamaartikan dengan ujian. Meskipun sangat berkaitan, akan tetapi tidak mencakup keseluruhan makna evaluasi pembelajaran yang sebenarnya. Ujian atau tes hanyalah salah satu jalan yang dapat ditempuh untuk menjalankan proses evaluasi.
Beberapa Istilah Evaluasi Pendidikan
Untuk menghindari berbagai mispersepsi yang biasa terjadi dalam
evaluasi, berikut adalah pengertian istilah atau terminologi yang biasa
digunakan dalam evaluasi dan pengukuran, meliputi: tes, pengukuran
(measurement), evaluasi, dan asesmen (assesment) menurut Mohrens (1984 dalam
Asrul dkk, 2015, hlm. 3).
Tes,
adalah istilah yang paling sempit pengertiannya dari keempat
istilah lainnya, yaitu membuat dan mengajukan sejumlah pertanyaan yang harus
dijawab. Sebagai hasil jawabannya diperoleh sebuah ukuran (nilai angka) dari
seseorang.
Pengukuran,
pengertiannya menjadi lebih luas, yakni dengan menggunakan
observasi skala rating atau alat lain yang membuat kita dapat memperoleh
informasi dalam bentuk kuantitas. Juga berarti pengukuran dengan berdasarkan
pada skor yang diperoleh.
Evaluasi,
adalah proses penggambaran dan penyempurnaan informasi yang
berguna untuk menetapkan alternatif. Evaluasi bisa mencakup arti tes dan
pengukuran dan bisa juga berarti di luar keduanya. Hasil Evaluasi bisa memberi
keputusan yang profesional. Seseorang dapat mengevaluasi baik dengan data
kuantitatif maupun kualitatif.
Asesmen,
bisa digunakan untuk memberikan diagnosa terhadap problema
seseorang. Dalam pengertian ia adalah sinonim dengan evaluasi. Namun yang perlu
ditekankan di sini bahwa yang dapat dinilai atau dievaluasi adalah karakter
dari seseorang, termasuk kemampuan akademik, kejujuran, kemampuan untuk
mengejar, dsb.
Selain suatu proses untuk melihat kinerja pembelajaran, evaluasi
juga berfungsi sebagai pembuat keputusan. Proses evaluasi bukan sekedar
mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan
(Cornbach dan Stufflebeam dalam Arikunto, 2016, hlm. 3).
Pengertian Evaluasi Pembelajaran Menurut Para Ahli
Lalu sebetulnya apa evaluasi itu? Berikut adalah beberapa pendapat ahli mengenai pengertian evaluasi pembelajaran.
Arikunto
Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk
menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan dapat
tercapai (Arikunto, 2016, hlm. 3).
Rina Febriana
Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi, dalam menilai (assessment) keputusan yang dibuat untuk merancang suatu sistem pembelajaran (Febriana, 2019, hlm. 1).
Zainal Arifin
Menurut Arifin (2017, hlm. 2) evaluasi adalah suatu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran.
Ralph Tyler
Tyler dalam Arikunto (2016, hlm. 3) mendefinisikan bahwa evaluasi pembelajaran merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menemukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai.
Norman E. Gronlund
Menurut Gronlund (1976) dalam (Purwanto, 2013, hlm. 3) evaluasi
adalah suatu proses yang sistematis untuk menentukan atau membuat keputusan
sampai sejauh mana tujuan-tujuan pembelajaran telah dicapai oleh siswa.
Wringth
Wringht dkk berpendapat evaluasi pendidikan adalah penaksiran terhadap pertumbuhan dan kemajuan siswa ke arah tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang telah ditetapkan di dalam kurikulum (Wringth dkk dalam Purwanto, 2013, hlm. 3).
Kedudukan Evaluasi Dalam Pembelajaran
Lalu apa dan bagaimana sebetulnya kedudukan evaluasi dalam pembelajaran? Untuk mengetahuinya, kita dapat merujuk pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 57 ayat 1 yang menyatakan bahwa “evaluasi dilakukan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan kepada pihak-pihak berkepentingan, di antaranya terhadap peserta didik, lembaga dan program pendidikan”.
Sehingga kedudukan evaluasi pendidikan mencakup semua komponen,
proses pelaksanaan dan produk pendidikan secara total, dan di dalamnya
setidaknya terakomodir tiga konsep, yakni: memberikan pertimbangan (judgement),
nilai (value), dan arti (worth).
Tujuan Penilaian Hasil Belajar
Tujuan dari penilaian hasil belajar tentunya sama bersinggungan dengan tujuan evaluasi belajar dan pembelajaran yang dilaksanakan. Evaluasi merupakan faktor penting yang menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran. Oleh karena itu, sangat penting untuk benar-benar mengetahui tujuan evaluasi, agar hal yang ingin dicapai dalam proses evaluasi dapat terjadi. Tujuan evaluasi hasil belajar menurut Arifin (2017, hlm. 15) adalah sebagai berikut.
Mengetahui tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi yang
telah diberikan.
Mengetahui kecakapan, motivasi, bakat, minat dan sikap peserta
didik terhadap program pembelajaran.
Mengetahui tingkat kemajuan dan kesesuaian hasil belajar peserta
didik dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.
Mendiagnosis keunggulan dan kelemahan peserta didik dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran.
Seleksi, yaitu memilih dan menentukan peserta didik yang sesuai
dengan jenis pendidikan tertentu.
Menentukan kenaikan kelas.
Menempatkan peserta didik sesuai dengan potensi yang
dimilikinya.
Tujuan Evaluasi Pembelajaran
Selain itu, tujuan evaluasi dalam pembelajaran menurut Nana Sudjana (2017, hlm. 4) adalah sebagai
berikut.
Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat
diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata
pelajaran yang ditempuhnya.
Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di
sekolah, yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para
siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.
Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan
perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta
strategi pelaksanaannya.
Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.
Fungsi Evaluasi Pembelajaran
Selain berbagai tujuan di atas, pentingnya evaluasi dalam
pembelajaran dapat dilihat dari fungsi atau kegunaan yang dimilikinya. Menurut
Arifin (2017, hlm. 15) fungsi atau kegunaan yang dimiliki oleh evaluasi pembelajaran
adalah sebagai berikut.
Fungsi formatif,
yakni untuk memberikan umpan balik kepada guru sebagai dasar
untuk memperbaiki proses pembelajaran dan mengadakan program remedial jika
diperlukan bagi peserta didik.
Fungsi sumatif,
yaitu menentukan nilai kemajuan atau hasil belajar peserta didik
dalam mata pelajaran tertentu, sebagai bahan untuk memberikan laporan kepada
berbagai pihak, penentuan kenaikan kelas, dan penentuan lulus tidaknya peserta
didik.
Fungsi diagnostik,
yakni untuk memahami latar belakang meliputi latar psikologis,
fisik, dan lingkungan peserta didik yang mengalami kesulitan belajar, yang
hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam memecahkan kesulitan-kesulitan
tersebut.
Fungsi penempatan,
yaitu menempatkan peserta didik dalam situasi pembelajaran yang
tepat (misalnya dalam menentukan program spesialisasi) sesuai dengan tingkat
kemampuan peserta didik.
Sementara itu fungsi evaluasi menurut Sudjana (2017, hlm. 3)
dikelompokkan menjadi tiga fungsi, yakni sebagai berikut.
Alat untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional.
Umpan balik bagi perbaikan proses belajar-mengajar.
Dasar dalam menyusun laporan kemajuan belajar siswa kepada para
orang tuanya.
Prinsip Evaluasi
Dalam Permendikbud No. 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pendidikan pasal 5, dijelaskan bahwa prinsip evaluasi atau penilaian hasil belajar antara lain adalah sebagai berikut.
Sahih, yang berarti penilaian didasarkan pada data yang
mencerminkan kemampuan yang diukur.
Objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan
kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.
Adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan
peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama,
suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
Terpadu, berarti penilaian merupakan salah satu komponen yang
tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
Terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan
dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.
Menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian mencakup
semua aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang
sesuai, untuk memantau dan menilai perkembangan kemampuan peserta didik.
Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan
bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran
pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik
dari segimekanisme, prosedur, teknik, teknik, maupun hasilnya.
Pendekatan Evaluasi Pembelajaran
Dilihat dari komponen pembelajaran, pendekatan evaluasi dapat
dibagi dua, yaitu pendekatan tradisional dan pendekatan sistem.
Pendekatan Tradisional
Menurut Arifin (2017, hlm. 85-86) pendekatan evaluasi
tradisional berorientasi pada praktik evaluasi yang telah berjalan selama ini
di sekolah yang ditujukan pada perkembangan aspek intelektual peserta didik.
Aspek-aspek keterampilan dan pengembangan sikap kurang mendapatkan perhatian
yang serius.
Dengan kata lain, peserta didik hanya dituntut untuk menguasai
mata pelajaran. Kegiatan-kegiatan evaluasi juga lebih difokuskan pada komponen
produk saja, sementara komponen proses cenderung diabaikan. Hasil kajian
Spencer cukup memberikan gambaran betapa pentingnya evaluasi pembelajaran.
Pendekatan Sistem
Evaluasi pendekatan sistem adalah evaluasi yang dilakukan
melalui sistem atau totalitas dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan
ketergantungan. Komponen evaluasi yang dimaksud meliputi komponen kebutuhan dan
feasibility, komponen input, komponen proses, dan komponen produk (Arifin, 2017, hlm. 86).
Stuffebeam menyingkatnya sebagai CIPP, yakni context, input, process, product. Komponen-komponen ini harus menjadi landasan pertimbangan dalam evaluasi pembelajaran secara sistematis. Berbeda dengan pendekatan tradisional yang hanya menyentuh komponen produk saja.
Mudahnya pendekatan ini tidak hanya mempertimbangkan penilaian
kognitif atau penguasaan mata pelajaran saja. Namun melibatkan seluruh komponen
yang ada, misalnya keaktifan, afeksi, karakter, atau berbagai komponen lain
yang dibutuhkan dalam suatu pembelajaran.
Jadi seperti itu ya guys penjelasan dari pengertian sistem evaluasipembelajaran.
Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan kita bersama dan menjadi ilmu yang
bermanfaat untuk kita, aamiin yarabbal alamin. Sekian blog saya minggu ini,
akan kita lanjutkan diminggu depan dengan materi yang berdeda pastinya, sekian
dari saya kalo ada kesalahan kata dan penulisan mohon dimaafkan, terima kasih
telah membaca.... Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar